Rabu, 20 Februari 2013

Bagiku, Inilah Hidup.



Beranjak dewasa aku lulus dari Sekolah Menengah Pertama. Sebagian besar dari mereka berpikiran bahwa seragam putih abu abu lebih menyenangkan dari putih biru, tetapi tidak untukku. Kesempatan terakhir bersama mereka, aku hanya berdiam diri dirumah tak beranjak. Aku seharusnya disana dengan pakaian adat, maju ke atas panggung dan menerima sertifikat sebagai pelajar berprestasi yang mungkin dapat membuat kedua orang tuaku menangis bangga terhadapku. Hari itu sebuah penyakit menemaniku, seluruh tubuhku berbintik merah dan panas tubuhku hingga 40o c. Dokter berkata ini bukan cacar air atau campak yang mulai hangat diperbincangkan, ibuku hanya berkata “Mas, jalani aja apa yang seharusnya kamu jalani, kamu pasti sembuh, terus bisa main bareng temen temen kamu lagi”. Aku hanya melakukan aktifitas sebagai manusia yang berpenyakit, meminum obat ini dan itu, pergi ke dokter satu dan yang lainnya. Saat itu aku sadar, tanpa cinta dari kedua orangtuaku aku tidak dapat hidup hingga sekarang. Siapa yang akan melayaniku saat aku sakit selain orangtuaku. Mereka para tetangga hanya menjenguk dan memberikan buah buahan, bukan untuk merawatku. Rinduku berbuah lara, aku tidak bisa bermain dengan teman temanku yang sebentar lagi akan aku tinggalkan, aku habiskan waktuku hanya untuk merepotkan kedua orangtuaku walaupun akhirnya kesehatanku membaik, penyakit yang aku derita kian memudar walaupun akan berbekas sebagai kenangan yang akan mengingatkanku di hari esok.
Aku mempunyai keluarga yang cukup, cukup untuk makan, cukup untuk tertawa bersama, cukup untuk meneruskan sekolah hingga sarjana, namun kebutuhan akan gelar atas nama pendidikan memaksa kedua orangtuaku untuk berpikir keras mengatur uang yang ada. SMP adalah masa yang pernah aku lalui dengan lingkungan yang buta akan kebutuhan duniawi. Aku bersekolah di lingkungan yang cukup terpandang dan mayoritas temanku hidup dalam kemewahan. Labil, kata yang cocok untuk kehidupanku saat itu. Lingkungan yang mewah bertentangan dengan kemampuan perekonomian yang ada. Ibuku pernah berkata, “Hadapi semua masalah yang ada dan temukan jalan keluarnya.”, hal ini memaksaku untuk bergaul dengan mereka yang menerimaku. Kemampuan dan keadaan yang ada saat itu membawaku dalam pola hidup yang sederhana, walaupun tidak meninggalkan kata gengsi dalam pergumulanku. Deni Darmawan dan Rifky Pamungkas, mereka adalah sahabatku, bersama mereka aku bermain, belajar, bertukar pikiran akan kehidupan. Mereka mempunyai latar belakang keluarga yang berbeda, namun kita bertiga tetap menjalin persaudaraan yang indah hingga detik ini. Teman temanku sibuk mencari Sekolah Menengah Atas, bersiap bertemu dengan teman teman baru dan akan membuat cerita baru pada masanya.
Yang membuat hidup telah mengaturnya, Dia tahu apa yang aku butuhkan agar tetap hidup. Aku berdoa, berusaha dan berharap akan masa depanku dan Dia menjawab permohonanku, hidupku berlanjut pada taraf yang lebih tinggi. Pada 8 September 2008 aku berkemas dan siap meninggalkan keluarga dan semua kenangan yang pernah ada. Aku pergi dengan bangga menuju Jakarta, kota dimana semuanya tersedia, ratusan gedung gedung yang menutupi matahari terbit dan tenggelam. Aku mendapatkan bea siswa dalam bidang olahraga. Sekolah gratis di Ibukota, fasilitas tempat tinggal, makan, uang saku hingga sepatu akan diberikan untuk bocah sepertiku. Terdengar mustahil aku dapat merasakan hidup dengan fasilitas yang begitu memanjakan. SMA 1 PSKD, tempat dimana para atlet basket seluruh Indonesia akan bersekolah dan membuat sebuah cerita untuk hidupnya dan mengukir prestasi untuk karirnya. Mereka membawa banyak cerita luar biasa dari daerahnya masing masing, saling memamerkan kemampuan, membanggakan kisah yang pernah mereka lalui, dan aku berkata dalam hati, “Saat anda membuka lembar hidup yang baru, anda akan mempunyai kenangan baru, namun dapatkah anda membuat hari ini menjadi kenangan yang indah bagi anda?”
Bocah yang masih gila dengan kesenangan dan kebebasan, saat dimana jauh dari orang tua adalah hari yang menyenangkan. Tanpa ada yang melarang untuk berbuat apapun juga, teman temanku dapat bersenang senang, melupakan segalanya, tetapi tidak untukku. Malam pertama di Ibukota dan tanpa orang tua, aku tidak menikmati suasana baru dan memandang gemerlapnya Ibukota, namun yang kupikirkan hanya kedua orangtuaku dan desaku. Teringat sesaat sebelum berangkat, gerimis kecil membasahi desaku, aroma tanah basah membuat perpisahan sangat indah, dengan sepeda motor aku dan orangtuaku menuju ke tempat dimana travel siap mengantarku. Sepanjang jalan aku merasakan kehangatan sebuah keluarga yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Aku mencium tangan bapak ibuku dan berpamitan. Aku melihat wajah tegar di balik kesedihan mereka, senyum dan air mata yang Ibu berikan adalah simbol perpisahanku. Kepergianku seakan akan kepergian yang tak akan kembali. Ibuku saat itu berkata, “Jangan lupa berdoa ya mas, semuanya pasti akan baik baik saja.”, demikian pesan terakhir ibu sebelum aku pergi. Aku menangis seketika itu dalam kamarku yang baru, lebih dari rindu yang aku rasakan terhadap mereka dan aku sadar aku kini hidup jauh dari orang tua. Beberapa saat kemudian, hp ku berdering kencang, telepon dari ibuku. Sekali lagi, Tuhan menunjukkan bahwa Dia tahu apa yang aku butuhkan. Suara nyaring seorang ibu adalah suara terindah yang pernah aku dengar, perbincangan kami hanya beberapa saat saja, namun satu hal yang baru aku sadari adalah bapak terus menerus menanyakan keadaanku dan berulang kali menyuruh ibu untuk meneleponku. Bapak adalah sosok yang pendiam dan menurutku tidak perhatian dengan keadaan anaknya, namun keadaan yang aku jalani saat ini menunjukkan pola pikirku yang salah terhadap bapakku sendiri. Perhatian dan kasih sayang tidak harus ditunjukkan pada orang yang kita cintai, itulah pelajaran berharga yang aku dapat dari perbincangan sesaat dengan ibuku malam ini. Kedua orangtuaku adalah semangatku untuk terus hidup hingga saat ini.
Kehidupanku kini diawali dengan kata optimisme dan ambisius. Kehidupan yang penuh dengan fasilitas yang memanjakan berubah menjadi sebuah tanggung jawab besar bagi sekolahku dan bagi karirku. Hari hariku dipenuhi dengan serangkaian jadwal latihan dan sekolah. Aku pikir, hidupku bukan sebagai atlet namun sebagai aset sekolah yang dipercaya dapat mengubah sebuah citra dan nama baik sebuah instansi pendidikan. Keseharianku diawali dengan aktivitas sebagai seorang pelajar dari pukul 06.30 hingga pukul 15.30, dilanjutkan dengan latihan hingga pukul 18.00, kemudian makan malam dan belajar. Latihan dan belajar merupakan hal yang sangat mendasar bagi kami sebagai atlet dan pelajar. Tidak dapat dipercaya jika aku remaja yang belum dewasa menjalani keseharian yang begitu formal, melelahkan dan membosankan, namun seperti inilah kehidupanku. Aku terus berusaha agar hidupku tetap bahagia, memang sedikit memaksa namun itu yang membuat aku mampu bertahan disana. Aku berusaha mengacuhkan semua hal yang merugikanku, semua hal yang dapat membuatku marah. Aku belajar menghadapi semua hal yang menyulitkanku dengan cara yang berbeda, seperti bangun pagi, aku tidak menyukai jika ada orang yang mengganggu tidurku, namun kewajiban seorang pelajar adalah bangun pagi dan sekolah. Aku harus bangun pukul 5.00, mandi dan tiba di sekolah pukul 06.00, aku selalu melanjutkan tidurku sesampainya di sekolah. ”Sekolah mandiri, itulah sebutan bagi sekolahku ini. Adanya aturan merupakan alat bantu agar kita dapat menjadi lebih baik, namun setiap aturan mempunyai toleransi karena aturan tercipta karena adanya kebijakan. Pada dasarnya, manusia dapat hidup tanpa aturan, jika tidak ada ada niat buruk yang diciptakan manusia itu sendiri. Aku bertanya tanya, “Bagaimana sebuah kehidupan tercipta tanpa adanya aturan? Kehidupan yang penuh dengan kesadaran nilai moral dan tanggung jawab pada masing masing individu.” Berbagai kebijakan yang hanya dimiliki sekolahku ditujukan untuk mengembangkan potensi dari setiap individu di sekolah ini dan kebijakan tersebut membantuku dalam mengatasi segala permasalahan yang aku hadapi dalam bidang akademik dan non akademik. Sekolahku yang satu ini adalah sekolah yang luar biasa, di sini aku belajar akan sebuah kehidupan. Aku hidup tidak hanya untuk hidup dan tidak mati, aku berkarya dengan apa yang ada. Aku belajar memahami sebuah cinta, ketenaran, nama baik, jabatan, harta dan semua yang dipercaya dapat membuat hidupku menjadi lebih baik.
Remaja adalah sebagian kecil dari panjangnya fase kehidupan manusia yang paling mudah tersimpan dalam memori otak. Kenakalan remaja, rasa ingin tahu dan godaan akan nikmatnya duniawi adalah sesuatu yang sudah sewajarnya dihadapi seorang manusia. Akupun menghadapi segala sesuatu yang sewajarnya dihadapi seorang remaja dan aku masih mengingatnya sampai sekarang. Aku diskorsing selama 1 bulan karena terbukti meminum “San Miguel”, minuman beralkohol golongan A yang mengandung 4,9 % alkohol ini membuat aku terhambat dalam meneruskan sekolahku. Rasa malu terhadap guru guruku yang aku jadikan sebagai orangtuaku di Ibukota tidak lepas dariku hingga saat ini. Selama 1 bulan, aku disana tidak bersekolah dan latihan. Waktu yang sangat luang itu aku habiskan bersama saudaraku Reno Ary Putra, belajar memahami arti sebuah hukuman dan apa yang seharusnya dilakukan setelah hukuman selesai. Pertanyaan yang tidak kunjung usai dibahas pada saat menjalani hukuman itu adalah, “Pernahkah anda berpikir bahwa anda hidup dalam ratusan bahkan ribuan aturan yang mengekang anda untuk menikmati beberapa saat saja dalam hidup anda? Apa yang seharusnya anda lakukan dengan berbagai aturan yang mengekang anda? Bosankah anda dengan segala peraturan yang ada?” Kesimpulan yang dapat aku jadikan pedoman hidup dari peristiwa ini adalah aku harus menaati segala aturan yang ada dikehidupanku, namun aku tidak  membiarkan aturan tersebut merusak waktu yang aku milliki dalam kehidupan yang singkat ini. Saat aku dapat “benar benar” menikmati waktu yang aku miliki, aku dapat mencapai kebahagiaan yang aku sendiri belum pernah merasakannya. Sebagian besar manusia yang hidup saat ini mendefinisikan kebahagiaan adalah sesuatu yang erat dengan kemewahan dan mahal. Mereka bahagia saat liburan dengan kapal Princess Cruises, mereka bahagia dengan menunggangi mobil Lamborghini Aventador, tapi tidak untukku. Aku dapat merasakan kebahagiaan saat aku melamun, aku sangat bahagia saat aku bangun pagi dan aku bisa melamun lagi. Aku bahagia dengan kebersamaan keluarga. Forrest Gump merupakan film yang memberi contoh kebahagiaan yang sederhana, dia dapat merasakan kebahagiaan saat dia berlari. Buatlah kebahagiaan yang nyata dalam hidup anda dengan syarat syarat yang sederhana dan tanpa melanggar aturan yang ada.
Tidak dapat dipungkiri, keteraturan dalam pola hidup yang penuh tuntutan dan kesabaran membawaku dalam sebuah situasi yang lebih bermakna, memahami arti rasa syukur terhadap hasil sebuah usaha. Kerja cerdas, kemauan dan harapan yang aku miliki memberikan hasil yang memuaskan. Peringkat pertama di kelas adalah pengalaman pertamaku yang tidak terlupakan, lulus SMA tanpa mencontek, lolos SNMPTN undangan, kuliah di Universitas Gadjah Mada tanpa biaya dan mendapat uang saku dari negara. Ukiran prestasi dalam bidang non akademik juga membawaku kedalam suatu kehidupan yang lebih membanggakan, kami SMA 1 PSKD berhasil menjuarai banyak kompetisi basket regional Jakarta maupun Nasional, saat terindah dalam menjuarai sebuah kejuaraan adalah pada saat mengangkat piala dihadapan sekian banyak orang dan aku membuktikan bahwa aku bisa menjadi juara. Semua usahaku itu dibayar dengan rasa bangga kedua orang tuaku, itulah bagian terindah dari setiap nafas yang hembuskan hingga sekarang. Sebuah rasa yang tidak bisa aku ungkapkan dengan kata kata, dimana aku tahu bahwa orangtuaku bangga terhadapku. Pencapaian yang cukup sederhana jika dibandingkan dengan mereka yang menjuarai berbagai kompetisi Internasional, beasiswa ke luar negeri atau mereka yang sukses dalam usia yang masih muda, namun dengan apa yang aku miliki saat ini, aku sudah merasa senang dan cukup.
Banyak pengalaman berharga yang aku dapatkan pada saat bersekolah di Ibukota dan banyak cerita yang tercipta saat aku menghabiskan waktu bersama mereka. Aku hidup diantara teman yang berbeda beda. Mereka peduli, mereka lucu, mereka setia, mereka jahil, mereka jahat, dan mereka semua yang membuatku menjadi seperti ini. Mereka adalah keluarga baru yang aku miliki di Ibukota, canda tawa dan duka kami lalui bersama. Pada dasarnya manusia itu sama, mereka manusia yang baik, hanya perbuatan mereka yang membedakan mereka. Segala perbuatan yang mereka lakukan pasti mempunyai tujuan, walaupun mereka sendiri tidak mengerti apa tujuannya. Tanpa mereka yang peduli, aku tidak mengetahui bagaimana cara memperdulikan sesama. Tanpa mereka yang lucu, aku tidak mengerti bagaimana aku bisa tertawa. Tanpa mereka yang setia, aku tidak mengerti mengapa aku harus setia. Tanpa mereka yang jahil, aku tidak mengerti bagiamana aku bersabar. Tanpa mereka yang jahat, aku tidak mengerti bagaimana caranya aku menjadi seorang yang baik. Terkadang perbuatan jahat yang mereka lakukan adalah pilihan terakhir yang mereka miliki. Tidak ada orang ingin dikenal dengan imbuhan gelar kejahatannya. Hidupku tidak dapat dipisahkan dengan kebaikan dan kejahatan, kedua hal ini sangat sensitif dengan kata cinta. Cinta yang manusia miliki dapat membuat manusia tidak dapat membedakan antara kebaikan dan kejahatan. Aku pernah membaca di surat kabar harian, “Seorang bapak mencopet di dalam bus kota karena keluarganya belum makan selama 3 hari.” Aku bertanya kepada teman temanku, “Apakah ini perbuatan yang salah?” Sebagian besar temanku menjawab itu adalah perbuatan yang salah, namun menurutku tidak, mungkin perbuatan itu adalah pilihan terakhir yang dimiliki bapak itu. Bapak itu mencopet karena ingin keluarganya dapat bertahan hidup, ini membuktikan bahwa bapak itu sangat mencintai keluarganya dan tidak tega jika melihat keluarganya kelaparan. Hal ini terdengar sangat menyedihkan, namun ini benar benar terjadi pada kehidupan yang pernah aku alami. Sifat egoisme masing masing individu terus berkembang, mereka berlomba lomba mengumpulkan harta benda karena mereka takut akan hidup dalam kemiskinan, seperti yang dihadapi keluarga bapak itu. Teori munculnya perekonomian adalah adanya kebutuhan yang harus terpenuhi agar dapat bertahan hidup. Segala usaha yang dilakukan manusia saat ini bukan untuk mempertahankan hidup, namun untuk memperkaya hidup mereka. Seandainya, kekayaan yang dimiliki Indonesia saat ini dibagi rata kepada semua penduduk Indonesia, apakah masih ada keluarga yang kelaparan? Para peneliti dan pencipta di Indonesia dapat dikumpulkan dan bekerja sama agar dapat menjaga kekayaan alam Indonesia. Luas hutan tropis Indonesia adalah > 70.000 kha. Luas laut Indonesia yang mencapai 5,8 juta km2, terdiri dari 0,3 juta km2 perairan teritorial, 2,8 juta km2 perairan pedalaman dan kepulauan, 2,7 juta km2 Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE), serta terdiri lebih dari 17.500 pulau, dengan laut yang luas itu, potensi ekonomi laut Indonesia diperkirakan mencapai 1,2 triliun dollar AS per tahun. Sumber daya minyak dan gas yang diperkirakan mencapai 87,22 milliar barel dan 594,43 TSCF tersebar di Indonesia. Apakah masih kurang untuk memberikan nasi bungkus dan lapangan kerja mereka yang masih bimbang dalam kehidupannya? Aku termenung saat memikirkan hal tersebut, keadaan yang sangat memprihatinkan jika masih ada keluarga yang kelaparan.
Mencapai puncak tidak lebih susah dari bertahan hidup di atas sana. Kehidupanku berkembang dari titik satu ke titik yang lain, kini hidupku masuk dalam lingkup filosofis yang aku gunakan hingga detik ini. Sama dengan kehidupanku sebelumnya, aku hidup dengan sahabat sahabat yang mengantarku kedalam titik kehidupan yang lebih tinggi. Ilmu pertama tentang kehidupan yang aku pahami di dasarkan pada kisah Sisifos yang diharuskan untuk terus-menerus memikul batu besar ke atas bukit di Tartaros, dan jika sudah sampai di atas, batu tersebut akan selalu berguling kembali ke bawah. Aku belajar dimana aku dapat meraih sebuah cita cita yang lebih dari ketenaran, kemewahan, kebanggaan atau nama baik. Merupakan sifat dasar manusia yang tidak mengenal rasa puas, selalu ingin berkembang dan bertambah besar, namun jika cita cita duniawi telah tercapai mereka juga akan mati dan dikuburkan. Aku tahu bahwa setelah meniggal aku tidak membawa harta benda yang aku kumpulkan dan aku bertanya tanya, “Mengapa mereka masih tetap mengejar dan mengumpulkan cita cita duniawi dan mereka tidak membaginya kepada sesama? Apa yang menjadi cita cita para koruptor jika mereka terus melakukan korupsi? Jika mereka bersedekah, apakah mungkin sedekah itu belum cukup untuk memberi nasi bungkus bagi masyarakat miskin di sekeliling mereka?”
Pada saat itu aku sadar bahwa aku telah hidup dalam sebuah peradaban yang sangat berbeda dengan masa kecil bapak dan ibuku, namun kehidupan yang aku alami saat ini merupakan pengalaman berharga untuk mempersiapkan 10 atau 20 tahun kedepan untuk masyarakat Indonesia maupun dunia. Aku masih muda dan aku merasa segalanya telah tercukupi, aku pernah menjadi nomor satu, aku pernah menjadi juara, dan aku pernah memiliki sesuatu. Saat saat perayaan akan keberhasilan yang aku raih merupakan waktu yang indah, namun 2 atau 3 hari setelahnya aku hanya manusia biasa yang tidak diperbincangkan. Hidupku seperti para Sisifos yang membawa batu kepuncak gunung dan akan digulingkan kebawah lagi, hal seperti itulah yang membuatku tidak lagi berusaha untuk dilihat hebat atau dipandang dengan berbagai penghargaan. Sebagian besar usaha yang aku lakukan kini hanya bertujuan untuk kedua orangtuaku yang membesarkanku, untuk mereka yang mencintaiku dan masyarakat di luar sana yang masih kelaparan, setidaknya aku dapat membawa batu ke puncak gunung dan aku dapat menabur benih tanaman di atas sana yang akarnya dapat aku ikatkan pada batu sehingga tidak jatuh lagi.
Pengarang buku Thoreau menulis “Lebih dari cinta, uang, keyakinan, ketenaran dan keadilan, berikan aku kebenaran.” Semua yang dikatakan beliau adalah hal yang kita manusia kejar, namu dapatkah anda memberi kebenarannya? Aku sendiri belum bisa memberikan kebenarannya, namun aku percaya bahwa Tuhanlah yang mengetahui apa yang aku, kamu, dia dan mereka butuhkan. Diluar usaha yang aku lakukan, aku percaya bahwa Tuhan memberikan yang terbaik untukku, entah itu menyulitkanku atau mempermudah hidupku, itulah yang terbaik bagiku. Hingga kini, aku belajar bagaimana hidup tanpa nafsu duniawi, hidup tanpa rasa ingin memiliki. Aku cukupkan hidupku dengan makanan yang mengeyangkan perutku. Menurutku, harta yang aku kejar dan aku kumpulkan membuat hidupku penuh dengan kekhawatiran. Saat aku memiliki sepeda, aku takut sepeda itu akan hilang saat aku tinggalkan. Aku tidak perlu khawatir dan merasa takut jika aku tidak mempunyai sepeda. Kekhawatiran itulah yang membuat manusia tidak mampu untuk menikmati kehidupan mereka, lalu apa yang mereka nikmati dari hidup yang singkat ini? Aku tidak pernah hidup dalam suatu kebetulan, yang aku percaya hanyalah takdir yang Tuhan gariskan. Biarkan yang hidup tetap hidup dan mereka tidak akan mati sia sia tanpa usahaku untuk merubah dunia, walaupun merekapun pada akhirnya akan mati dan meniggalkan dunia.
Aku lulus tahun 2011, aku disana mengenakan jas almamater SMA, pada hari perpisahan dengan guru guru yang juga sebagai orangtuaku, lagu “terima kasih guru” mengiringi perpisahan kami disana. Isak tangis memenuhi ruangan yang diam, rasa haru dan bangga mereka melepas kami para mantan muridnya. Aku peluk erat guru guru yang membimbingku hingga ke titik dimana aku berada di puncak. Sekali lagi, perpisahan ini membuat aku merasakan kehangatan keluarga yang begitu indah. Tanpa mereka aku tidak akan menjadi seperti ini. Malam terakhir di Ibukota, aku berkemas malam itu dan siap meninggalkan keluarga, kenangan, pengalaman dan cinta yang pernah ada. Sebelum aku pulang ke desaku, aku berkata dalam hati, “Saat anda membuka lembar hidup yang baru, anda akan mempunyai kenangan baru, namun dapatkah anda membuat hari ini menjadi kenangan yang indah bagi anda?” Aku telah mendapatkan pengalaman hidup dan membuat kenangan yang cukup indah di Ibukota, semoga aku dapat membuat kenangan indah itu lagi di Jogjakarta, tempat dimana aku meneruskan kehidupanku ke titik yang lebih tinggi dan tetap menjadi anak yang membanggakan bagi mereka orangtua kandungku dan orangtuaku di Ibukota. “Jangan lupa berdoa dan semuanya akan baik baik saja.”, pesan itulah yang menemaniku di semua tempat yang pernah aku kunjungi hingga saat ini.