Minggu, 02 Februari 2014

sungguh rapuh

Hampir usai,
mereka tertawa lepas menikmati
semakin meninggalkan budaya kini
aku berhenti, aku mati

Mereka lemah, namun luar biasa jahatnya
hampir sama dengan pemerintahnya
Jumlah yang tak terhitung,
mereka fokus pada satu hingga mematung

Aku rindu keajaibanmu,
menantang mesra dalam jiwa
Aku memintamu,
tidak hanya aroma sementara

Aku harapkan nikmatmu
berbicara tanpa kata
hanya berbeda jamuanmu
dan sedikit bumbu agama

Aku lelah, hampir menyerah
dalam dunia entah berantah
aku berkata, anda bukan siapa saja
walau mereka sebut anda kaya raya

Batavia bercerita

Belum berhala, aku menyembah
Langit masih bersinar cerah
Dia benar maha pemurah
Aku menangis, mengerti jika Dia pemarah

Dia mulai berbicara dengan airnya
Hingga aku berkumpul dengan malaikat Nya
Hanya bertugas membantu seadanya
TIdak berharap imbalan atau citra

Ada saja tingkah manusia
Entah mengumpat atau berceloteh saja
Dia ibu yang mungkin terlalu besar otaknya
Ingin kubungkam mulutnya dengan penis baja

Kenapa wanita selalu banyak bicara
ada lagi satu wanita molek tubuhnya
umur 14 th hilang perawannya, masih banyak bicara saja
pergilah saja nyonya, tempatmu ada di liang lahat sana

Pintu gerbang masih sendu dengan warna cokelatnya
Bersenggama dengan adik kelas betapa asyiknya
aku hanya diam saja, biar mereka yang banyak bicara
satu yang kurindu, hanyalah kamu saja

Aku wajar dibuatnya,
masih diambang batas kewajaran katanya
andai mengerti, aku hampir gila dibuatnya
hingga sekarang masih menjadi tanda tanya

Bertemu tidak hanya untuk berpisah
kepergian ini tidak hanya membuat masalah
kunjungan ini tidak terfokus padamu saja
tapi hanya obrolan bermakna penuh kata

Batavia tidak hanya hitam
tapi iya, ini mengerikan
atas hingga bawah, berwatak sama
walau beberapa temanku ini berbeda

Batavia masih hijau
dengan tembok keliling seperti O'hare
kala senja, bocah bola masih bersama
mereka ceria dan damai di Ibukota

Aku berkumpul pada otak otak modern
Ribuan ide tercipta saat kita bicara
mereka berkata, "ini tidak disengaja"
hingga tuntas, kita sama, kita rata

Cibubur kota sudah terlanjur
papan iklan kosong, mendamaikanku
tanpa kabar ia menghilang
mungkin sakit, mengapa tidak bersua

Ini belum apa apa
tidak berharga, tidak seberapa
maka acuhkan saja
aku hanya berceloteh seperti wanita