Senin, 10 Maret 2014

Berikan Aku Sebatang Rokok

aku buta, hingga tak mampu menentukan prolog hingga epilog
serangkai diksi romantis yang sungguh bukan untuk mengolok
aku berangkat tidak dengan selembar golok
hanya aku yang merasa menjadi orang goblok

mereka wajah lawas dengan nama baru
berikan aku sebatang rokok
biarkan otakmu merekam sesuatu haru
namun sebuah duka tidak cukup manis untuk menjadi epilog

aku lelah untuk menangis
bukan untuk seorang gadis
sadar, walau sukar, ini tak mampu ditepis
biarkan air berjalan hingga habis

ingatlah tempat ini, bukan menjadi alasan untuk berduka
disana tidak hanya sekedar abu, tapi pasir
sore yang selalu lengkap dengan embun atau hujan Nya
mereka selalu ada dengan segudang kamus lawak pesisir

ingatlah tempat ini, bukan menjadi alasan untuk menangis
anda semua sama rata, sebagai pecinta mulia
daun gugur dengan hebatnya, tapi mereka bukan pengais
mereka seperti emas permata, hanya saja enggan berkilau dilihatnya

pukul 01.07 adikmu masih asik dengan musiknya
haruskah aku memecahkan gendang telinga mereka?
hingga mereka paham fungsi pita suara!!
setidaknya, abang bisa tetidur bahagia disana

santing menyanting, cupit mencupit,
sepuntung rokok yang habis terbakar hingga pangkalnya
kita hampir sama seperti pengais
tapi aku tak mampu biarkan abang tetap menangis

Dibawah megahnya alam, ada duka
ingatlah, kakek kurus renta dengan cangkulnya
cahaya mentari senja mengantar kita di truk tentara
kau buat Tuhan itu ada, atau memang begitu adanya?

jasad mereka sudah terkubur rapi
ini tentang kemanusiaan, bukan kekuasaan
jiwa mereka tidak terbakar api
harapku, jangan biarkan kekuasaan mengubur kemanusiaan ini

Pagi ini, tidak ada kata
Lebur menjadi satu, kita ber "syukur" bersama
Luluh menjadi satu, kita menangis bersama
tanpa beda, mereka sudah tiada

Bisakah kita sebentar saja, membicarakan tentang cinta?
cinta yang lugu, tanpa mengada ada
bukan antara pria dan wanita,
namun untuk semua dan Semua



Tutup dulu buku prestasimu
mari kita berdoa tanpa duka

*commiserate I & J
  R.I.P