Sabtu, 31 Mei 2014

Hidup dan Cinta

Kadang manusia berpikir tentang sesuatu yang tidak seharusnya manusia pikirkan. Merasa paling tinggi dalam hal yang menurutnya benar. Lucu, saat manusia berkata yang seharusnya ia tidak katakan. Pikiran adalah untuk selamanya, selamanya ada dan manusia menikmatinya. Menikmati untuk dua sisi kehidupan yang saat ini sudah lebur dalam sosialita. Hitam dan putih yang kian lama kian samar.

Ironis, saat semuanya belum tentu benar dan manusia menggunakannya  hanya untuk menjadi pelindung di masa hidupnya. Ironis, saat manusia ragu akan sebuah kebenaran. Kebenaran tidak selalu benar, dan kesalahan tidak mampu berkutik karena kesalahan itu sendiri yang menjadi acuan. Kadang manusia melakukan sesuatu yang tidak beralasan. Keinginan tanpa niat, yang terus ia utarakan.

Manusia tidak sepenuhnya mengerti akan kehidupan, yang ia tahu adalah bagaimana cara hidup yang paling benar, sedangkan kebenaran masih diombang ambingkan dengan segala kemungkinan. Kemungkinan yang seharusnya manusia tidak pikirkan (lagi) Lalu, apa yang seharusnya manusia lakukan? Hal ini masih diperdebatkan (bagi yang mendebatkannya, para pemikir) walaupun tidak banyak yang peduli pada kehidupan karena tidak banyak manusia yang berpikir tentang kehidupan.

Ironis, saat jutaan kepala dan jutaan sel otak yang digunakan hanya untuk satu tujuan yang belum tentu benar. Manusia seperti terkurung di kandang kehancuran. Terkurung dimana manusia saling berlomba dan membunuh satu sama lainnya hanya untuk satu titik yang semu. Katakan padaku, apa  itu kehidupan? Kehidupan yang benar benar hidup. Bukankah, kebenaran tidak berbeda dengan kehidupan yang pasti akan hancur oleh usia dan manusia? Kini, manusia seperti tidak mampu berjalan bebas tanpa komentar satu sama lainnya.

Berbahagia tanpa ada tawa yang mampu mengganggu kenyamanan manusia lainnya? Bersedih tanpa tangis yang melegakan? Apa yang seharusnya manusia lakukan, selain diam? Manusia yang sedikit mengerti tentang toleransi untuk berekspresi, pada akhirnya manusia berusaha menyibukkan diri dengan tawaran tekhnologi. Ekspresi yang tidak nyata, bersifat hiperbola atau hanya kemunafikan semata. Ironis.

Cinta adalah sebuah jawaban – Einstein. Kadang manusia salah mengartikan tentang cinta. Seperti kehidupan yang menjadi misteri, cintapun hingga kini tidak diketahui sejarah cinta hingga berujung pada bibit, bebet dan bobotnya. Cinta seperti apa yang manusia idamkan? Berbeda kepala, berbeda juga arti kata “cinta”. Suatu hal yang begitu rumit yang seharusnya tidak dipikirkan manusia. Bayangkan saja, ada cinta di setiap hembusan manusia dan manusia itu sendiri yang menebangi pohon hingga ada saatnya manusia akan mati karena tidak ada pohon tidak menghasilkan oksigen yang dibutuhkan manusia. Cinta yang datang dengan alasan wajah cantiknya, mapan kehidupannya dan dari nama baik keluarganya, lalu berikan aku deskripsi tentang cinta tulus manusia!

Akan Ada Disini




Ini luar biasa, dimana pelangi menghiasi setiap harinya.
Tanpa sesuatu yang terjual aku hidup olehnya.
Alam sebagai takdirku. Alam yang hancur akan menghancurkan asaku jua.
Bayangkan, air terjun bersama dengan embun yang menyejukan.
Ini luar biasa dan ikan ada di danau kecilnya.

Tanpa suara gaduh dan asap motornya
Hingga dingin ini membuatku meringkuk sepi tak berdaya
Berhenti dan dengarlah, pohon yang berbicara
Mereka memberi salam cinta pada dunia

Ketenengan ini, akan sungguh tercipta
Entah kapan, namun akan
Hal ini yang membuatku hidup menjadi manusia
Tempatku yang menyenangkan dan menyegarkan jiwa

Alamku Menyedihkan


Marahmu tiada tara
Pemikiranku berlapis ganda
Cintamu tidak abadi,
seperti kita, yang semu, tak sejati

Teriaklah jika kau hendak
teriakalah alamku
Alamku yang setiap saat ku pijak
Alamku yang  batuk berdahak karena asap

Ini akan meledak,
Kami akan khawatir padamu, Kawan
Dengan segala ancaman
tanpa pembelaan

Hingga Tidak ada kata Beda


Sampai matipun aku harus menjadi penentang kebudayaan
Hingga hancur bersama, luluh lantak akibat dunia
Tidak hanya sebuah tekanan yang di tutup rapat,
hanya keadaan yang sewajarnya untuk dimaklumkan

Hingga pada dasarnya,
matiku akan tetap diam tak bicara
Mereka seakan mengurungku pada dilema
Hanya untuk melawan sebuah perbedaan

Hingga yang Terindah Mampu


Semacam kerinduan menghujam dalam
berhenti pada satu wajah indah
memberi senyuman pada malam
merayap mesra seperti wabah

Bercerita indah pada dinding penantian
membuang waktu, menumbuhkan kasih
para tikus putih diam semalaman
menunggu mati, menuju pucat putih

Telinga berdengung kencang
air  ingin berjalan sepanjang
merasa panjang memandang
seperti melayang

Kemesraanmu, diantara kusta bukan dusta
meruak sampai keluar dari tubuhnya
ikatan bayangan hilang entah
terlepas sudah jantung dari sarangnya

Hiruk Pikuk Meringkuk Bahagia



Hingga kini aku buta, tak berpengaruh
Burung ini tetap terbang kembali pada sangkarnya
Tali ini tersimpul mati dan akan mati
Entah, pelangi kini tak berwarna

Kita ingin berjalan bersama
Melewati lembah hijau dengan air terjunnya
Adalah cinta yang tidak membutuhkan apapun juga
Kini aku hancur bersama dengan kelembutannya
Biarkan aku menghilang untuk sementara
mungkin untuk selamanya, aku baik saja
Kalian masih dengan celoteh ria
Lebih baik tuli hingga aku tak mencecapnya

Maafkan cinta yang selalu membuatmu bahagia
dan akan membuatmu benci selamanya
Cinta bukan suatu kebahagian atau kebencian
Cinta ini hampa, hanya kita yang belum memahaminya