Senin, 17 November 2014

RUPARUPA SENI RUPA

10 November 2014
“RUPARUPA SENI RUPA”

Seketika aku memahami tentang batu permata yang hanya mampu untuk dimengerti, bukan untuk diciptakan. Entah seperti apa cara yang kalian gunakan untuk menciptakannya, semuanya akan sia sia karena hal itu memang tidak akan berubah. Seperti manusia yang sama manusianya, manusia yang kian hari kian ganas, saling, mencintai, menikam dan meludah. Kehidupan yang menjadi pentas sandiwara tanpa asmara, sedikit demi sedikit, aku mampu membuka kotak brankasnya. Kehidupan ini menantangmu, waktu yang tetap melaju kencang, menawarkan amben nyaman, seperti cita cita yang membunuh perlahan. Mereka dipaksa untuk menjadi api yang menyala, berkobar dengan ambisinya, mengejar sasuatu semu yang masih diragukan legalitasnya.

JIka saja,menjadi tiada adalah satu satunya cara, aku akan pergi mati muda. Ibu, aku anakmu. Cita citaku belum kugapai, ibu. Mengharap sadarnya, aku berbicara. Mengelus tangisnya aku tertunduk, lemah tak berdaya. Aku pilih untuk mati saja, Ibu. Ini anakmu yang memilih mati dipangkuanmu, Ibu. Jangan menangis, karena mereka para batu permata yang tidak menangis atas pilu kehidupan.

Setiap nafasmu adalah palsu, hanya kamuflase dari ketidakberdayaan manusia yang saling menghina. Siapa, apa, bagaimana, mengapa Tuhan mencipatakan kehidupan ini? Sampai Kapan ini akan berakhir? Antara setan dan malaikat yang saling mengikat, saling menjerat, saling menawarkan kerja sama untuk berserikat. Beban berat duniawi dan tuntutan surgawi yang melekat pekat. Petanyaaan pertanyaan jatuh menghujam tanpa jawaban, sebagai hutang kehidupan. Pernyataan pernyataan yang belum sempat terpaparkan, masih menjadi misteri hingga dunia yang transparan ini akan hancur dibombardir.

Matahari kini tidak bersinar, keajaiban Mu tidak Kau perlihatkan, Kau hanya sebagai mitos, tanpa hati mereka menangis, mandatangi Mu, dan pergi, lagi. Varietas peran kehidupan menjadikan manusia kini buta, bukan menjadi apa yang seharusnya, namun menjadi apa yang pantas untuk dilakukan. Ada saatnya untuk berduka, ada saatnya untuk tertawa, ada saatnya pula untuk menjadi kejam, hina, tak tau malu, dan berdoa. Semua ini palsu. Karena manusia bukan lagi menjadi manusia, manusia hanya sebutan ilmiah untuk mereka yang berhasil dan berlimpah, berlumur darah, dan tertawa.

Tanah yang kupijak kini telah renta, beraroma amis darah, benci dan durhaka. Mereka menghancurkanmu dengan segala propaganda demi uang, tanah ini mereka korbankan. Dan saat tanah ini berhenti memberkati, mereka akan menangis, meronta, mengharap belas kasih hujan katak dan belalang. Ruang yang megah, tak berguna. Ada saatnya mereka lebih mencintai tanah basah yang mendamaikan dan embun yang membasahi wajah.


                Dunia yang kau jalani kini, akan membunuhmu. Lambat laun akan tampak betapa menjijikannya cara hidup manusia dengan pola pikirnya. Cita cita ini, akan menghilang, sia sia, hanya sementara diantara kepuasan yang ada. Sudahilah sedihmu yang belum sudah, ikhlaskanlah yang pasti berujung indah. Berbahagialah, manusia. 

-thx a lot FSTVLST - 

Sabtu, 01 November 2014

“AKU MASIH BUKAN AKU”


Untuk menjadi apa, aku ada?

Hingga bosan, cermin kamarku mendapati pertanyaan bodoh seperti itu. Maafkan aku, kamu yang ada di cermin kamarku. Aku belum menemukanmu. Apakah sudah terlalu banyak sesuatu yang terlewatkan untuk mencari siapa dirimu? Dari cinta yang aku tinggalkan, hingga kehidupan penuh sandiwara aku bertahan. Hanya berandai saja, penuh estimasi tanpa kejelasan dan bukti. Sebatas teori tanpa aksi.

Aku lelah mencarimu. Lelah mencari dirimu yang sebenarnya ada dalam diriku sendiri. Sebut saja ini Ironis. Mencari sesuatu yang seharusnya tidak dicari. Sesuatu yang seharusnya diciptakan, bukan dicari.

Dari segala yang pernah aku lalui, mencoba membaca sesuatu yang tidak tertulis. Mencoba menemukan sesuatu yang tidak perlu digali. Apakah aku salah? Apa salahkku? Hai kawan, tolong aku. Jangan biarkan aku terlalu lama tersesat, jangan diam saja!! Apakah kau hanya mampu diam dan memainkan permainanmu sendiri?

Dari segala kehidupan yang aku lewati, entah kanan atau kiri, entah hitam atau putih, aku terus berestimasi. Kehidupan yang sudah terlewatkan, akan aku jadikan apa wahai kau kenangan? Setelah ini semua terjadi, tidak semudah mengucapakan kata “terbayar lunas, tuntas, aku ikhlas”. 

Teristimewa bagi kalian yang telah menemukannya tanpa berusaha mencarinya. Aku yakin kalian hanya mengikuti sebuah peradaban dunia saja. dan tanpa kalian, duniapun tidak akan ada bedanya dan kehidupanmu hanya untuk mengahbiskan waktu saja.

Jangan kau tertawa, hai cermin!! hahaha
Andai saja kau mengerti aku, kau tidak akan menyusahkan aku. Siapa dirimu? Tak usah kau jawab, akupun tidak mengerti siapa dirimu. Aku mencintaimu, cerminku. #hahahehe

Tolong aku, temukan aku.