10 November 2014
“RUPARUPA SENI RUPA”
Seketika aku
memahami tentang batu permata yang hanya mampu untuk dimengerti, bukan untuk
diciptakan. Entah seperti apa cara yang kalian gunakan untuk menciptakannya,
semuanya akan sia sia karena hal itu memang tidak akan berubah. Seperti manusia
yang sama manusianya, manusia yang kian hari kian ganas, saling, mencintai, menikam
dan meludah. Kehidupan yang menjadi pentas sandiwara tanpa asmara, sedikit demi
sedikit, aku mampu membuka kotak brankasnya. Kehidupan ini menantangmu, waktu
yang tetap melaju kencang, menawarkan amben nyaman, seperti cita cita yang
membunuh perlahan. Mereka dipaksa untuk menjadi api yang menyala, berkobar
dengan ambisinya, mengejar sasuatu semu yang masih diragukan legalitasnya.
JIka
saja,menjadi tiada adalah satu satunya cara, aku akan pergi mati muda. Ibu, aku
anakmu. Cita citaku belum kugapai, ibu. Mengharap sadarnya, aku berbicara.
Mengelus tangisnya aku tertunduk, lemah tak berdaya. Aku pilih untuk mati saja,
Ibu. Ini anakmu yang memilih mati dipangkuanmu, Ibu. Jangan menangis, karena
mereka para batu permata yang tidak menangis atas pilu kehidupan.
Setiap nafasmu
adalah palsu, hanya kamuflase dari ketidakberdayaan manusia yang saling
menghina. Siapa, apa, bagaimana, mengapa Tuhan mencipatakan kehidupan ini?
Sampai Kapan ini akan berakhir? Antara setan dan malaikat yang saling mengikat,
saling menjerat, saling menawarkan kerja sama untuk berserikat. Beban berat
duniawi dan tuntutan surgawi yang melekat pekat. Petanyaaan pertanyaan jatuh
menghujam tanpa jawaban, sebagai hutang kehidupan. Pernyataan pernyataan yang
belum sempat terpaparkan, masih menjadi misteri hingga dunia yang transparan
ini akan hancur dibombardir.
Matahari kini
tidak bersinar, keajaiban Mu tidak Kau perlihatkan, Kau hanya sebagai mitos,
tanpa hati mereka menangis, mandatangi Mu, dan pergi, lagi. Varietas peran
kehidupan menjadikan manusia kini buta, bukan menjadi apa yang seharusnya,
namun menjadi apa yang pantas untuk dilakukan. Ada saatnya untuk berduka, ada
saatnya untuk tertawa, ada saatnya pula untuk menjadi kejam, hina, tak tau malu,
dan berdoa. Semua ini palsu. Karena manusia bukan lagi menjadi manusia, manusia
hanya sebutan ilmiah untuk mereka yang berhasil dan berlimpah, berlumur darah,
dan tertawa.
Tanah yang
kupijak kini telah renta, beraroma amis darah, benci dan durhaka. Mereka
menghancurkanmu dengan segala propaganda demi uang, tanah ini mereka korbankan.
Dan saat tanah ini berhenti memberkati, mereka akan menangis, meronta,
mengharap belas kasih hujan katak dan belalang. Ruang yang megah, tak berguna.
Ada saatnya mereka lebih mencintai tanah basah yang mendamaikan dan embun yang
membasahi wajah.
Dunia
yang kau jalani kini, akan membunuhmu. Lambat laun akan tampak betapa
menjijikannya cara hidup manusia dengan pola pikirnya. Cita cita ini, akan
menghilang, sia sia, hanya sementara diantara kepuasan yang ada. Sudahilah
sedihmu yang belum sudah, ikhlaskanlah yang pasti berujung indah.
Berbahagialah, manusia.
-thx a lot FSTVLST -