Senin, 18 Juli 2016

Jum'at



Jumat itu aku terdiam bingung, waktu terus saja datang, menggilas segala kemungkinan yang tidak sempat digunakan. Gema adzan sudah dikumandangkah, beberapa dari kami sudah bersiap dengan sarung dan peci. Entah, dia tidak bersiap siap (temanku), mungkin datang bulan juga menimpa seorang pria sekarang. Dia duduk di atas sofa yang aku susun seperti kasur, bersantai dan membakar satu putung rokok kesukaanya. Dia bertanya, “apakah semudah itu jika kita ingin masuk surga? Tiap langkahnya dihitung pahala, ketepatan waktunya dihitung pahala, barisannya dihitung pahala juga, tidak menjadi perkara jika kita benar benar ingin masuk surga.” Dia menghisap rokok itu dengan nikmatnya, menikmati waktu yang disediakan untuknya. Raut mukanya tidak menunjukkan rasa bersalah, matanya yang pilu menunjukkan betapa acuhnya dia terhadap kewajibannya. “Perhitungan membuat kita berhati hati, sampai sampai melupakan isi hati. Apalah arti sujud syukurku jika aku tidak sepenuh hati bersujud? Apalah arti langkahku jika aku tidak bisa bermanfaat bagi orang disekitarku? Yang aku tahu, surga tidak semudah itu.” Katanya melanjutkan. Rokok yang dibakarnya sudah habis, dan dia menyulut satu lagi, lagi dan lagi, hingga teman teman yang lain pulang dan tidak ragu ragu mencemoohnya. “apalah arti sholatmu, jika kini kau datang mengejek aku?” dan semua terdiam dan satu per satu dari mereka berpamitan. Aku hanya melihat dan mendengar saja, tidak ada sesuatu apapun yang aku punya untuk masuk dalam pergunjingan mereka. karena aku bukan Tuhan yang dapat memutuskan.