Jumat itu aku
terdiam bingung, waktu terus saja datang, menggilas segala kemungkinan yang
tidak sempat digunakan. Gema adzan sudah dikumandangkah, beberapa dari kami
sudah bersiap dengan sarung dan peci. Entah, dia tidak bersiap siap (temanku),
mungkin datang bulan juga menimpa seorang pria sekarang. Dia duduk di atas sofa
yang aku susun seperti kasur, bersantai dan membakar satu putung rokok
kesukaanya. Dia bertanya, “apakah semudah itu jika kita ingin masuk surga? Tiap
langkahnya dihitung pahala, ketepatan waktunya dihitung pahala, barisannya
dihitung pahala juga, tidak menjadi perkara jika kita benar benar ingin masuk surga.”
Dia menghisap rokok itu dengan nikmatnya, menikmati waktu yang disediakan
untuknya. Raut mukanya tidak menunjukkan rasa bersalah, matanya yang pilu
menunjukkan betapa acuhnya dia terhadap kewajibannya. “Perhitungan membuat kita
berhati hati, sampai sampai melupakan isi hati. Apalah arti sujud syukurku jika
aku tidak sepenuh hati bersujud? Apalah arti langkahku jika aku tidak bisa
bermanfaat bagi orang disekitarku? Yang aku tahu, surga tidak semudah itu.” Katanya
melanjutkan. Rokok yang dibakarnya sudah habis, dan dia menyulut satu lagi, lagi dan lagi, hingga teman teman yang lain pulang dan tidak ragu
ragu mencemoohnya. “apalah arti sholatmu, jika kini kau datang mengejek
aku?” dan semua terdiam dan satu per satu dari mereka berpamitan. Aku hanya
melihat dan mendengar saja, tidak ada sesuatu apapun yang aku punya untuk masuk
dalam pergunjingan mereka. karena aku bukan Tuhan yang dapat memutuskan.