Beranjak
dewasa aku lulus dari Sekolah Menengah Pertama. Sebagian besar dari mereka
berpikiran bahwa seragam putih abu abu lebih menyenangkan dari putih biru,
tetapi tidak untukku. Kesempatan terakhir bersama mereka, aku hanya berdiam
diri dirumah tak beranjak. Aku seharusnya disana dengan pakaian adat, maju
ke atas panggung dan menerima sertifikat sebagai pelajar berprestasi yang
mungkin dapat membuat kedua orang tuaku menangis bangga terhadapku. Hari
itu sebuah penyakit menemaniku, seluruh tubuhku berbintik merah dan
panas tubuhku hingga 40o c. Dokter berkata ini bukan cacar air atau
campak yang mulai hangat diperbincangkan, ibuku hanya berkata “Mas, jalani aja
apa yang seharusnya kamu jalani, kamu pasti sembuh, terus bisa main bareng
temen temen kamu lagi”. Aku hanya melakukan aktifitas sebagai manusia yang
berpenyakit, meminum obat ini dan itu, pergi ke dokter satu dan yang lainnya. Saat
itu aku sadar, tanpa cinta dari kedua orangtuaku aku tidak dapat hidup hingga
sekarang. Siapa yang akan melayaniku saat aku sakit selain orangtuaku.
Mereka para tetangga hanya menjenguk dan memberikan buah buahan, bukan untuk
merawatku. Rinduku berbuah lara, aku tidak bisa bermain dengan teman
temanku yang sebentar lagi akan aku tinggalkan, aku habiskan waktuku hanya untuk
merepotkan kedua orangtuaku walaupun akhirnya kesehatanku membaik, penyakit
yang aku derita kian memudar walaupun akan berbekas sebagai kenangan yang akan
mengingatkanku di hari esok.
Aku
mempunyai keluarga yang cukup, cukup untuk makan, cukup untuk tertawa bersama,
cukup untuk meneruskan sekolah hingga sarjana, namun kebutuhan akan gelar atas
nama pendidikan memaksa kedua orangtuaku untuk berpikir keras mengatur uang
yang ada. SMP adalah masa yang pernah aku lalui dengan lingkungan yang buta
akan kebutuhan duniawi. Aku bersekolah di lingkungan yang cukup terpandang
dan mayoritas temanku hidup dalam kemewahan. Labil, kata yang cocok
untuk kehidupanku saat itu. Lingkungan yang mewah bertentangan dengan kemampuan
perekonomian yang ada. Ibuku pernah berkata, “Hadapi semua masalah yang ada dan
temukan jalan keluarnya.”, hal ini memaksaku untuk bergaul dengan mereka
yang menerimaku. Kemampuan dan keadaan yang ada saat itu membawaku dalam
pola hidup yang sederhana, walaupun tidak meninggalkan kata gengsi dalam
pergumulanku. Deni Darmawan dan Rifky Pamungkas, mereka adalah sahabatku,
bersama mereka aku bermain, belajar, bertukar pikiran akan kehidupan.
Mereka mempunyai latar belakang keluarga yang berbeda, namun kita bertiga tetap
menjalin persaudaraan yang indah hingga detik ini. Teman temanku sibuk mencari
Sekolah Menengah Atas, bersiap bertemu dengan teman teman baru dan akan
membuat cerita baru pada masanya.
Yang
membuat hidup telah mengaturnya, Dia tahu apa yang aku butuhkan agar tetap
hidup. Aku berdoa, berusaha dan berharap akan masa depanku dan Dia menjawab
permohonanku, hidupku berlanjut pada taraf yang lebih tinggi. Pada 8 September
2008 aku berkemas dan siap meninggalkan keluarga dan semua kenangan yang pernah
ada. Aku pergi dengan bangga menuju Jakarta, kota dimana semuanya tersedia, ratusan
gedung gedung yang menutupi matahari terbit dan tenggelam. Aku mendapatkan
bea siswa dalam bidang olahraga. Sekolah gratis di Ibukota, fasilitas tempat
tinggal, makan, uang saku hingga sepatu akan diberikan untuk bocah sepertiku.
Terdengar mustahil aku dapat merasakan hidup dengan fasilitas yang begitu
memanjakan. SMA 1 PSKD, tempat dimana para atlet basket seluruh Indonesia akan
bersekolah dan membuat sebuah cerita untuk hidupnya dan mengukir prestasi untuk
karirnya. Mereka membawa banyak cerita luar biasa dari daerahnya masing masing,
saling memamerkan kemampuan, membanggakan kisah yang pernah mereka lalui, dan
aku berkata dalam hati, “Saat anda membuka lembar hidup yang baru, anda akan
mempunyai kenangan baru, namun dapatkah anda membuat hari ini menjadi kenangan
yang indah bagi anda?”
Bocah
yang masih gila dengan kesenangan dan kebebasan, saat dimana jauh dari orang
tua adalah hari yang menyenangkan. Tanpa ada yang melarang untuk berbuat apapun
juga, teman temanku dapat bersenang senang, melupakan segalanya, tetapi tidak untukku.
Malam pertama di Ibukota dan tanpa orang tua, aku tidak menikmati suasana baru
dan memandang gemerlapnya Ibukota, namun yang kupikirkan hanya kedua orangtuaku
dan desaku. Teringat sesaat sebelum berangkat, gerimis kecil membasahi desaku, aroma
tanah basah membuat perpisahan sangat indah, dengan sepeda motor aku dan
orangtuaku menuju ke tempat dimana travel siap mengantarku. Sepanjang jalan aku
merasakan kehangatan sebuah keluarga yang belum pernah aku rasakan
sebelumnya. Aku mencium tangan bapak ibuku dan berpamitan. Aku melihat
wajah tegar di balik kesedihan mereka, senyum dan air mata yang Ibu berikan adalah
simbol perpisahanku. Kepergianku seakan akan kepergian yang tak akan kembali. Ibuku
saat itu berkata, “Jangan lupa berdoa ya mas, semuanya pasti akan baik baik
saja.”, demikian pesan terakhir ibu sebelum aku pergi. Aku menangis seketika
itu dalam kamarku yang baru, lebih dari rindu yang aku rasakan terhadap mereka
dan aku sadar aku kini hidup jauh dari orang tua. Beberapa saat kemudian, hp ku
berdering kencang, telepon dari ibuku. Sekali lagi, Tuhan menunjukkan bahwa Dia
tahu apa yang aku butuhkan. Suara nyaring seorang ibu adalah suara terindah
yang pernah aku dengar, perbincangan kami hanya beberapa saat saja, namun satu
hal yang baru aku sadari adalah bapak terus menerus menanyakan keadaanku dan
berulang kali menyuruh ibu untuk meneleponku. Bapak adalah sosok yang pendiam
dan menurutku tidak perhatian dengan keadaan anaknya, namun keadaan yang aku
jalani saat ini menunjukkan pola pikirku yang salah terhadap bapakku sendiri.
Perhatian dan kasih sayang tidak harus ditunjukkan pada orang yang kita cintai,
itulah pelajaran berharga yang aku dapat dari perbincangan sesaat dengan ibuku
malam ini. Kedua orangtuaku adalah semangatku untuk terus hidup hingga saat
ini.
Kehidupanku
kini diawali dengan kata optimisme dan ambisius. Kehidupan yang penuh dengan
fasilitas yang memanjakan berubah menjadi sebuah tanggung jawab besar bagi
sekolahku dan bagi karirku. Hari hariku dipenuhi dengan serangkaian jadwal
latihan dan sekolah. Aku pikir, hidupku bukan sebagai atlet namun sebagai aset
sekolah yang dipercaya dapat mengubah sebuah citra dan nama baik sebuah
instansi pendidikan. Keseharianku diawali dengan aktivitas sebagai seorang
pelajar dari pukul 06.30 hingga pukul 15.30, dilanjutkan dengan latihan hingga
pukul 18.00, kemudian makan malam dan belajar. Latihan dan belajar merupakan
hal yang sangat mendasar bagi kami sebagai atlet dan pelajar. Tidak dapat
dipercaya jika aku remaja yang belum dewasa menjalani keseharian yang begitu formal,
melelahkan dan membosankan, namun seperti inilah kehidupanku. Aku terus
berusaha agar hidupku tetap bahagia, memang sedikit memaksa namun itu yang
membuat aku mampu bertahan disana. Aku berusaha mengacuhkan semua hal yang
merugikanku, semua hal yang dapat membuatku marah. Aku belajar menghadapi semua
hal yang menyulitkanku dengan cara yang berbeda, seperti bangun pagi, aku tidak
menyukai jika ada orang yang mengganggu tidurku, namun kewajiban seorang
pelajar adalah bangun pagi dan sekolah. Aku harus bangun pukul 5.00, mandi dan
tiba di sekolah pukul 06.00, aku selalu melanjutkan tidurku sesampainya di
sekolah. ”Sekolah mandiri, itulah sebutan bagi sekolahku ini. Adanya aturan
merupakan alat bantu agar kita dapat menjadi lebih baik, namun setiap aturan
mempunyai toleransi karena aturan tercipta karena adanya kebijakan. Pada
dasarnya, manusia dapat hidup tanpa aturan, jika tidak ada ada niat buruk yang
diciptakan manusia itu sendiri. Aku bertanya tanya, “Bagaimana sebuah kehidupan
tercipta tanpa adanya aturan? Kehidupan yang penuh dengan kesadaran nilai moral
dan tanggung jawab pada masing masing individu.” Berbagai kebijakan yang hanya
dimiliki sekolahku ditujukan untuk mengembangkan potensi dari setiap individu
di sekolah ini dan kebijakan tersebut membantuku dalam mengatasi segala
permasalahan yang aku hadapi dalam bidang akademik dan non akademik. Sekolahku
yang satu ini adalah sekolah yang luar biasa, di sini aku belajar akan sebuah
kehidupan. Aku hidup tidak hanya untuk hidup dan tidak mati, aku berkarya
dengan apa yang ada. Aku belajar memahami sebuah cinta, ketenaran, nama baik,
jabatan, harta dan semua yang dipercaya dapat membuat hidupku menjadi lebih
baik.
Remaja
adalah sebagian kecil dari panjangnya fase kehidupan manusia yang paling mudah
tersimpan dalam memori otak. Kenakalan remaja, rasa ingin tahu dan godaan akan
nikmatnya duniawi adalah sesuatu yang sudah sewajarnya dihadapi seorang manusia.
Akupun menghadapi segala sesuatu yang sewajarnya dihadapi seorang remaja dan
aku masih mengingatnya sampai sekarang. Aku diskorsing selama 1 bulan karena
terbukti meminum “San Miguel”, minuman beralkohol golongan A yang mengandung
4,9 % alkohol ini membuat aku terhambat dalam meneruskan sekolahku. Rasa malu
terhadap guru guruku yang aku jadikan sebagai orangtuaku di Ibukota tidak lepas
dariku hingga saat ini. Selama 1 bulan, aku disana tidak bersekolah dan
latihan. Waktu yang sangat luang itu aku habiskan bersama saudaraku Reno Ary
Putra, belajar memahami arti sebuah hukuman dan apa yang seharusnya dilakukan
setelah hukuman selesai. Pertanyaan yang tidak kunjung usai dibahas pada saat
menjalani hukuman itu adalah, “Pernahkah anda berpikir bahwa anda hidup dalam
ratusan bahkan ribuan aturan yang mengekang anda untuk menikmati beberapa saat
saja dalam hidup anda? Apa yang seharusnya anda lakukan dengan berbagai aturan
yang mengekang anda? Bosankah anda dengan segala peraturan yang ada?” Kesimpulan
yang dapat aku jadikan pedoman hidup dari peristiwa ini adalah aku harus menaati
segala aturan yang ada dikehidupanku, namun aku tidak membiarkan aturan tersebut merusak waktu yang
aku milliki dalam kehidupan yang singkat ini. Saat aku dapat “benar benar” menikmati
waktu yang aku miliki, aku dapat mencapai kebahagiaan yang aku sendiri belum
pernah merasakannya. Sebagian besar manusia yang hidup saat ini mendefinisikan
kebahagiaan adalah sesuatu yang erat dengan kemewahan dan mahal. Mereka bahagia
saat liburan dengan kapal Princess Cruises, mereka bahagia dengan menunggangi mobil Lamborghini Aventador, tapi tidak untukku. Aku
dapat merasakan kebahagiaan saat aku melamun, aku sangat bahagia saat aku
bangun pagi dan aku bisa melamun lagi. Aku bahagia dengan kebersamaan keluarga.
Forrest Gump merupakan film yang memberi contoh kebahagiaan yang sederhana, dia
dapat merasakan kebahagiaan saat dia berlari. Buatlah
kebahagiaan yang nyata dalam hidup anda dengan syarat syarat yang sederhana dan
tanpa melanggar aturan yang ada.
Tidak
dapat dipungkiri, keteraturan dalam pola hidup yang penuh tuntutan dan
kesabaran membawaku dalam sebuah situasi yang lebih bermakna, memahami arti rasa
syukur terhadap hasil sebuah usaha. Kerja cerdas, kemauan dan harapan yang aku
miliki memberikan hasil yang memuaskan. Peringkat pertama di kelas adalah
pengalaman pertamaku yang tidak terlupakan, lulus SMA tanpa mencontek, lolos
SNMPTN undangan, kuliah di Universitas Gadjah Mada tanpa biaya dan mendapat
uang saku dari negara. Ukiran prestasi dalam bidang non akademik juga membawaku
kedalam suatu kehidupan yang lebih membanggakan, kami SMA 1 PSKD berhasil
menjuarai banyak kompetisi basket regional Jakarta maupun Nasional, saat terindah
dalam menjuarai sebuah kejuaraan adalah pada saat mengangkat piala dihadapan
sekian banyak orang dan aku membuktikan bahwa aku bisa menjadi juara. Semua
usahaku itu dibayar dengan rasa bangga kedua orang tuaku, itulah bagian
terindah dari setiap nafas yang hembuskan hingga sekarang. Sebuah rasa yang
tidak bisa aku ungkapkan dengan kata kata, dimana aku tahu bahwa orangtuaku
bangga terhadapku. Pencapaian yang cukup sederhana jika dibandingkan dengan
mereka yang menjuarai berbagai kompetisi Internasional, beasiswa ke luar negeri
atau mereka yang sukses dalam usia yang masih muda, namun dengan apa yang aku
miliki saat ini, aku sudah merasa senang dan cukup.
Banyak pengalaman berharga yang aku dapatkan pada saat bersekolah di
Ibukota dan banyak cerita yang tercipta saat aku menghabiskan waktu bersama mereka.
Aku hidup diantara teman yang berbeda beda. Mereka peduli, mereka lucu, mereka
setia, mereka jahil, mereka jahat, dan mereka semua yang membuatku menjadi
seperti ini. Mereka adalah keluarga baru yang aku miliki di Ibukota, canda tawa
dan duka kami lalui bersama. Pada dasarnya manusia itu sama, mereka manusia
yang baik, hanya perbuatan mereka yang membedakan mereka. Segala perbuatan yang
mereka lakukan pasti mempunyai tujuan, walaupun mereka sendiri tidak mengerti apa
tujuannya. Tanpa mereka yang peduli, aku tidak mengetahui bagaimana cara
memperdulikan sesama. Tanpa mereka yang lucu, aku tidak mengerti bagaimana aku
bisa tertawa. Tanpa mereka yang setia, aku tidak mengerti mengapa aku harus
setia. Tanpa mereka yang jahil, aku tidak mengerti bagiamana aku bersabar.
Tanpa mereka yang jahat, aku tidak mengerti bagaimana caranya aku menjadi
seorang yang baik. Terkadang perbuatan jahat yang mereka lakukan adalah pilihan
terakhir yang mereka miliki. Tidak ada orang ingin dikenal dengan imbuhan gelar
kejahatannya. Hidupku tidak dapat dipisahkan dengan kebaikan dan kejahatan,
kedua hal ini sangat sensitif dengan kata cinta. Cinta yang manusia miliki
dapat membuat manusia tidak dapat membedakan antara kebaikan dan kejahatan. Aku
pernah membaca di surat kabar harian, “Seorang bapak mencopet di dalam bus kota
karena keluarganya belum makan selama 3 hari.” Aku bertanya kepada teman
temanku, “Apakah ini perbuatan yang salah?” Sebagian besar temanku menjawab itu
adalah perbuatan yang salah, namun menurutku tidak, mungkin perbuatan itu
adalah pilihan terakhir yang dimiliki bapak itu. Bapak itu mencopet karena
ingin keluarganya dapat bertahan hidup, ini membuktikan bahwa bapak itu sangat
mencintai keluarganya dan tidak tega jika melihat keluarganya kelaparan. Hal
ini terdengar sangat menyedihkan, namun ini benar benar terjadi pada kehidupan
yang pernah aku alami. Sifat egoisme masing masing individu terus berkembang,
mereka berlomba lomba mengumpulkan harta benda karena mereka takut akan hidup
dalam kemiskinan, seperti yang dihadapi keluarga bapak itu. Teori munculnya
perekonomian adalah adanya kebutuhan yang harus terpenuhi agar dapat bertahan
hidup. Segala usaha yang dilakukan manusia saat ini bukan untuk mempertahankan
hidup, namun untuk memperkaya hidup mereka. Seandainya, kekayaan yang dimiliki
Indonesia saat ini dibagi rata kepada semua penduduk Indonesia, apakah masih
ada keluarga yang kelaparan? Para peneliti dan pencipta di Indonesia dapat dikumpulkan
dan bekerja sama agar dapat menjaga kekayaan alam Indonesia. Luas hutan tropis Indonesia
adalah > 70.000 kha. Luas laut Indonesia yang mencapai 5,8 juta km2, terdiri
dari 0,3 juta km2 perairan teritorial, 2,8 juta km2 perairan pedalaman dan
kepulauan, 2,7 juta km2 Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE), serta terdiri lebih dari
17.500 pulau, dengan laut yang
luas itu, potensi ekonomi laut Indonesia diperkirakan mencapai 1,2 triliun
dollar AS per tahun. Sumber daya minyak dan gas
yang diperkirakan mencapai 87,22 milliar barel dan 594,43 TSCF tersebar di
Indonesia. Apakah masih kurang untuk memberikan nasi bungkus dan lapangan kerja
mereka yang masih bimbang dalam kehidupannya? Aku termenung saat memikirkan hal
tersebut, keadaan yang sangat memprihatinkan jika masih ada keluarga yang
kelaparan.
Mencapai
puncak tidak lebih susah dari bertahan hidup di atas sana. Kehidupanku
berkembang dari titik satu ke titik yang lain, kini hidupku masuk dalam lingkup
filosofis yang aku gunakan hingga detik ini. Sama dengan kehidupanku sebelumnya,
aku hidup dengan sahabat sahabat yang mengantarku kedalam titik kehidupan yang
lebih tinggi. Ilmu pertama tentang kehidupan yang aku pahami di dasarkan pada kisah Sisifos yang
diharuskan untuk terus-menerus memikul batu besar ke atas bukit di Tartaros,
dan jika sudah sampai di atas, batu tersebut akan selalu berguling kembali ke
bawah. Aku belajar dimana aku dapat meraih sebuah cita cita yang lebih
dari ketenaran, kemewahan, kebanggaan atau nama baik. Merupakan sifat dasar
manusia yang tidak mengenal rasa puas, selalu ingin berkembang dan bertambah
besar, namun jika cita cita duniawi telah tercapai mereka juga akan mati dan
dikuburkan. Aku tahu bahwa setelah meniggal aku tidak membawa harta benda yang
aku kumpulkan dan aku bertanya tanya, “Mengapa mereka masih tetap mengejar dan
mengumpulkan cita cita duniawi dan mereka tidak membaginya kepada sesama? Apa
yang menjadi cita cita para koruptor jika mereka terus melakukan korupsi? Jika
mereka bersedekah, apakah mungkin sedekah itu belum cukup untuk memberi nasi
bungkus bagi masyarakat miskin di sekeliling mereka?”
Pada
saat itu aku sadar bahwa aku telah hidup dalam sebuah peradaban yang sangat
berbeda dengan masa kecil bapak dan ibuku, namun kehidupan yang aku alami saat
ini merupakan pengalaman berharga untuk mempersiapkan 10 atau 20 tahun kedepan
untuk masyarakat Indonesia maupun dunia. Aku masih muda dan aku merasa
segalanya telah tercukupi, aku pernah menjadi nomor satu, aku pernah menjadi
juara, dan aku pernah memiliki sesuatu. Saat saat perayaan akan keberhasilan
yang aku raih merupakan waktu yang indah, namun 2 atau 3 hari setelahnya aku
hanya manusia biasa yang tidak diperbincangkan. Hidupku seperti para Sisifos
yang membawa batu kepuncak gunung dan akan digulingkan kebawah lagi, hal
seperti itulah yang membuatku tidak lagi berusaha untuk dilihat hebat atau
dipandang dengan berbagai penghargaan. Sebagian besar usaha yang aku lakukan
kini hanya bertujuan untuk kedua orangtuaku yang membesarkanku, untuk mereka
yang mencintaiku dan masyarakat di luar sana yang masih kelaparan, setidaknya
aku dapat membawa batu ke puncak gunung dan aku dapat menabur benih tanaman di
atas sana yang akarnya dapat aku ikatkan pada batu sehingga tidak jatuh lagi.
Pengarang
buku Thoreau menulis “Lebih dari cinta, uang, keyakinan, ketenaran dan
keadilan, berikan aku kebenaran.” Semua yang dikatakan beliau adalah hal yang
kita manusia kejar, namu dapatkah anda memberi kebenarannya? Aku sendiri belum
bisa memberikan kebenarannya, namun aku percaya bahwa Tuhanlah yang mengetahui
apa yang aku, kamu, dia dan mereka butuhkan. Diluar usaha yang aku lakukan, aku
percaya bahwa Tuhan memberikan yang terbaik untukku, entah itu menyulitkanku
atau mempermudah hidupku, itulah yang terbaik bagiku. Hingga kini, aku belajar
bagaimana hidup tanpa nafsu duniawi, hidup tanpa rasa ingin memiliki. Aku
cukupkan hidupku dengan makanan yang mengeyangkan perutku. Menurutku, harta yang
aku kejar dan aku kumpulkan membuat hidupku penuh dengan kekhawatiran. Saat aku
memiliki sepeda, aku takut sepeda itu akan hilang saat aku tinggalkan. Aku
tidak perlu khawatir dan merasa takut jika aku tidak mempunyai sepeda.
Kekhawatiran itulah yang membuat manusia tidak mampu untuk menikmati kehidupan
mereka, lalu apa yang mereka nikmati dari hidup yang singkat ini? Aku tidak
pernah hidup dalam suatu kebetulan, yang aku percaya hanyalah takdir yang Tuhan
gariskan. Biarkan yang hidup tetap hidup dan mereka tidak akan mati sia sia
tanpa usahaku untuk merubah dunia, walaupun merekapun pada akhirnya akan mati
dan meniggalkan dunia.
Aku
lulus tahun 2011, aku disana mengenakan jas almamater SMA, pada hari perpisahan
dengan guru guru yang juga sebagai orangtuaku, lagu “terima kasih guru”
mengiringi perpisahan kami disana. Isak tangis memenuhi ruangan yang diam, rasa
haru dan bangga mereka melepas kami para mantan muridnya. Aku peluk erat guru
guru yang membimbingku hingga ke titik dimana aku berada di puncak. Sekali
lagi, perpisahan ini membuat aku merasakan kehangatan keluarga yang begitu
indah. Tanpa mereka aku tidak akan menjadi seperti ini. Malam terakhir di
Ibukota, aku berkemas malam itu dan siap meninggalkan keluarga, kenangan,
pengalaman dan cinta yang pernah ada. Sebelum aku pulang ke desaku, aku berkata
dalam hati, “Saat anda membuka lembar hidup yang baru, anda akan mempunyai
kenangan baru, namun dapatkah anda membuat hari ini menjadi kenangan yang indah
bagi anda?” Aku telah mendapatkan pengalaman hidup dan membuat kenangan yang
cukup indah di Ibukota, semoga aku dapat membuat kenangan indah itu lagi di
Jogjakarta, tempat dimana aku meneruskan kehidupanku ke titik yang lebih tinggi
dan tetap menjadi anak yang membanggakan bagi mereka orangtua kandungku dan
orangtuaku di Ibukota. “Jangan lupa berdoa dan semuanya akan baik baik saja.”,
pesan itulah yang menemaniku di semua tempat yang pernah aku kunjungi hingga
saat ini.