Jumat itu aku
terdiam bingung, waktu terus saja datang, menggilas segala kemungkinan yang
tidak sempat digunakan. Gema adzan sudah dikumandangkah, beberapa dari kami
sudah bersiap dengan sarung dan peci. Entah, dia tidak bersiap siap (temanku),
mungkin datang bulan juga menimpa seorang pria sekarang. Dia duduk di atas sofa
yang aku susun seperti kasur, bersantai dan membakar satu putung rokok
kesukaanya. Dia bertanya, “apakah semudah itu jika kita ingin masuk surga? Tiap
langkahnya dihitung pahala, ketepatan waktunya dihitung pahala, barisannya
dihitung pahala juga, tidak menjadi perkara jika kita benar benar ingin masuk surga.”
Dia menghisap rokok itu dengan nikmatnya, menikmati waktu yang disediakan
untuknya. Raut mukanya tidak menunjukkan rasa bersalah, matanya yang pilu
menunjukkan betapa acuhnya dia terhadap kewajibannya. “Perhitungan membuat kita
berhati hati, sampai sampai melupakan isi hati. Apalah arti sujud syukurku jika
aku tidak sepenuh hati bersujud? Apalah arti langkahku jika aku tidak bisa
bermanfaat bagi orang disekitarku? Yang aku tahu, surga tidak semudah itu.” Katanya
melanjutkan. Rokok yang dibakarnya sudah habis, dan dia menyulut satu lagi, lagi dan lagi, hingga teman teman yang lain pulang dan tidak ragu
ragu mencemoohnya. “apalah arti sholatmu, jika kini kau datang mengejek
aku?” dan semua terdiam dan satu per satu dari mereka berpamitan. Aku hanya
melihat dan mendengar saja, tidak ada sesuatu apapun yang aku punya untuk masuk
dalam pergunjingan mereka. karena aku bukan Tuhan yang dapat memutuskan.
Senin, 18 Juli 2016
Senin, 17 November 2014
RUPARUPA SENI RUPA
10 November 2014
“RUPARUPA SENI RUPA”
Seketika aku
memahami tentang batu permata yang hanya mampu untuk dimengerti, bukan untuk
diciptakan. Entah seperti apa cara yang kalian gunakan untuk menciptakannya,
semuanya akan sia sia karena hal itu memang tidak akan berubah. Seperti manusia
yang sama manusianya, manusia yang kian hari kian ganas, saling, mencintai, menikam
dan meludah. Kehidupan yang menjadi pentas sandiwara tanpa asmara, sedikit demi
sedikit, aku mampu membuka kotak brankasnya. Kehidupan ini menantangmu, waktu
yang tetap melaju kencang, menawarkan amben nyaman, seperti cita cita yang
membunuh perlahan. Mereka dipaksa untuk menjadi api yang menyala, berkobar
dengan ambisinya, mengejar sasuatu semu yang masih diragukan legalitasnya.
JIka
saja,menjadi tiada adalah satu satunya cara, aku akan pergi mati muda. Ibu, aku
anakmu. Cita citaku belum kugapai, ibu. Mengharap sadarnya, aku berbicara.
Mengelus tangisnya aku tertunduk, lemah tak berdaya. Aku pilih untuk mati saja,
Ibu. Ini anakmu yang memilih mati dipangkuanmu, Ibu. Jangan menangis, karena
mereka para batu permata yang tidak menangis atas pilu kehidupan.
Setiap nafasmu
adalah palsu, hanya kamuflase dari ketidakberdayaan manusia yang saling
menghina. Siapa, apa, bagaimana, mengapa Tuhan mencipatakan kehidupan ini?
Sampai Kapan ini akan berakhir? Antara setan dan malaikat yang saling mengikat,
saling menjerat, saling menawarkan kerja sama untuk berserikat. Beban berat
duniawi dan tuntutan surgawi yang melekat pekat. Petanyaaan pertanyaan jatuh
menghujam tanpa jawaban, sebagai hutang kehidupan. Pernyataan pernyataan yang
belum sempat terpaparkan, masih menjadi misteri hingga dunia yang transparan
ini akan hancur dibombardir.
Matahari kini
tidak bersinar, keajaiban Mu tidak Kau perlihatkan, Kau hanya sebagai mitos,
tanpa hati mereka menangis, mandatangi Mu, dan pergi, lagi. Varietas peran
kehidupan menjadikan manusia kini buta, bukan menjadi apa yang seharusnya,
namun menjadi apa yang pantas untuk dilakukan. Ada saatnya untuk berduka, ada
saatnya untuk tertawa, ada saatnya pula untuk menjadi kejam, hina, tak tau malu,
dan berdoa. Semua ini palsu. Karena manusia bukan lagi menjadi manusia, manusia
hanya sebutan ilmiah untuk mereka yang berhasil dan berlimpah, berlumur darah,
dan tertawa.
Tanah yang
kupijak kini telah renta, beraroma amis darah, benci dan durhaka. Mereka
menghancurkanmu dengan segala propaganda demi uang, tanah ini mereka korbankan.
Dan saat tanah ini berhenti memberkati, mereka akan menangis, meronta,
mengharap belas kasih hujan katak dan belalang. Ruang yang megah, tak berguna.
Ada saatnya mereka lebih mencintai tanah basah yang mendamaikan dan embun yang
membasahi wajah.
Dunia
yang kau jalani kini, akan membunuhmu. Lambat laun akan tampak betapa
menjijikannya cara hidup manusia dengan pola pikirnya. Cita cita ini, akan
menghilang, sia sia, hanya sementara diantara kepuasan yang ada. Sudahilah
sedihmu yang belum sudah, ikhlaskanlah yang pasti berujung indah.
Berbahagialah, manusia.
-thx a lot FSTVLST -
Sabtu, 01 November 2014
“AKU MASIH BUKAN AKU”
Untuk menjadi apa, aku ada?
Hingga bosan, cermin kamarku
mendapati pertanyaan bodoh seperti itu. Maafkan aku, kamu yang ada di cermin
kamarku. Aku belum menemukanmu. Apakah sudah terlalu banyak sesuatu yang
terlewatkan untuk mencari siapa dirimu? Dari cinta yang aku tinggalkan, hingga
kehidupan penuh sandiwara aku bertahan. Hanya berandai saja, penuh estimasi
tanpa kejelasan dan bukti. Sebatas teori tanpa aksi.
Aku lelah mencarimu. Lelah mencari
dirimu yang sebenarnya ada dalam diriku sendiri. Sebut saja ini Ironis. Mencari
sesuatu yang seharusnya tidak dicari. Sesuatu yang seharusnya diciptakan, bukan
dicari.
Dari
segala yang pernah aku lalui, mencoba membaca sesuatu yang tidak tertulis.
Mencoba menemukan sesuatu yang tidak perlu digali. Apakah aku salah? Apa
salahkku? Hai kawan, tolong aku. Jangan biarkan aku terlalu lama tersesat,
jangan diam saja!! Apakah kau hanya mampu diam dan memainkan permainanmu
sendiri?
Dari segala kehidupan yang aku
lewati, entah kanan atau kiri, entah hitam atau putih, aku terus berestimasi.
Kehidupan yang sudah terlewatkan, akan aku jadikan apa wahai kau kenangan?
Setelah ini semua terjadi, tidak semudah mengucapakan kata “terbayar lunas,
tuntas, aku ikhlas”.
Teristimewa bagi kalian yang telah menemukannya tanpa berusaha mencarinya. Aku yakin kalian hanya mengikuti sebuah peradaban dunia saja. dan tanpa kalian, duniapun tidak akan ada bedanya dan kehidupanmu hanya untuk mengahbiskan waktu saja.
Jangan kau tertawa, hai cermin!! hahaha
Andai saja kau mengerti aku, kau tidak akan menyusahkan aku. Siapa dirimu? Tak usah kau jawab, akupun tidak mengerti siapa dirimu. Aku mencintaimu, cerminku. #hahahehe
Jangan kau tertawa, hai cermin!! hahaha
Andai saja kau mengerti aku, kau tidak akan menyusahkan aku. Siapa dirimu? Tak usah kau jawab, akupun tidak mengerti siapa dirimu. Aku mencintaimu, cerminku. #hahahehe
Tolong aku, temukan aku.
Sabtu, 31 Mei 2014
Hidup dan Cinta
Kadang manusia berpikir tentang sesuatu yang tidak seharusnya manusia pikirkan. Merasa paling tinggi dalam hal yang menurutnya benar. Lucu, saat manusia berkata yang seharusnya ia tidak katakan. Pikiran adalah untuk selamanya, selamanya ada dan manusia menikmatinya. Menikmati untuk dua sisi kehidupan yang saat ini sudah lebur dalam sosialita. Hitam dan putih yang kian lama kian samar.
Ironis, saat semuanya belum tentu benar dan manusia menggunakannya hanya untuk menjadi pelindung di masa hidupnya. Ironis, saat manusia ragu akan sebuah kebenaran. Kebenaran tidak selalu benar, dan kesalahan tidak mampu berkutik karena kesalahan itu sendiri yang menjadi acuan. Kadang manusia melakukan sesuatu yang tidak beralasan. Keinginan tanpa niat, yang terus ia utarakan.
Manusia tidak sepenuhnya mengerti akan kehidupan, yang ia tahu adalah bagaimana cara hidup yang paling benar, sedangkan kebenaran masih diombang ambingkan dengan segala kemungkinan. Kemungkinan yang seharusnya manusia tidak pikirkan (lagi) Lalu, apa yang seharusnya manusia lakukan? Hal ini masih diperdebatkan (bagi yang mendebatkannya, para pemikir) walaupun tidak banyak yang peduli pada kehidupan karena tidak banyak manusia yang berpikir tentang kehidupan.
Ironis, saat jutaan kepala dan jutaan sel otak yang digunakan hanya untuk satu tujuan yang belum tentu benar. Manusia seperti terkurung di kandang kehancuran. Terkurung dimana manusia saling berlomba dan membunuh satu sama lainnya hanya untuk satu titik yang semu. Katakan padaku, apa itu kehidupan? Kehidupan yang benar benar hidup. Bukankah, kebenaran tidak berbeda dengan kehidupan yang pasti akan hancur oleh usia dan manusia? Kini, manusia seperti tidak mampu berjalan bebas tanpa komentar satu sama lainnya.
Berbahagia tanpa ada tawa yang mampu mengganggu kenyamanan manusia lainnya? Bersedih tanpa tangis yang melegakan? Apa yang seharusnya manusia lakukan, selain diam? Manusia yang sedikit mengerti tentang toleransi untuk berekspresi, pada akhirnya manusia berusaha menyibukkan diri dengan tawaran tekhnologi. Ekspresi yang tidak nyata, bersifat hiperbola atau hanya kemunafikan semata. Ironis.
Cinta adalah sebuah jawaban – Einstein. Kadang manusia salah mengartikan tentang cinta. Seperti kehidupan yang menjadi misteri, cintapun hingga kini tidak diketahui sejarah cinta hingga berujung pada bibit, bebet dan bobotnya. Cinta seperti apa yang manusia idamkan? Berbeda kepala, berbeda juga arti kata “cinta”. Suatu hal yang begitu rumit yang seharusnya tidak dipikirkan manusia. Bayangkan saja, ada cinta di setiap hembusan manusia dan manusia itu sendiri yang menebangi pohon hingga ada saatnya manusia akan mati karena tidak ada pohon tidak menghasilkan oksigen yang dibutuhkan manusia. Cinta yang datang dengan alasan wajah cantiknya, mapan kehidupannya dan dari nama baik keluarganya, lalu berikan aku deskripsi tentang cinta tulus manusia!
Akan Ada Disini
Tanpa sesuatu yang terjual aku hidup olehnya.
Alam sebagai takdirku. Alam yang hancur akan menghancurkan asaku jua.
Bayangkan, air terjun bersama dengan embun yang menyejukan.
Ini luar biasa dan ikan ada di danau kecilnya.
Tanpa suara gaduh dan asap motornya
Hingga dingin ini membuatku meringkuk sepi tak berdaya
Berhenti dan dengarlah, pohon yang berbicara
Mereka memberi salam cinta pada dunia
Ketenengan ini, akan sungguh tercipta
Entah kapan, namun akan
Hal ini yang membuatku hidup menjadi manusia
Tempatku yang menyenangkan dan menyegarkan jiwa
Alamku Menyedihkan
Marahmu tiada tara
Pemikiranku berlapis ganda
Cintamu tidak abadi,
seperti kita, yang semu, tak sejati
Teriaklah jika kau hendak
teriakalah alamku
Alamku yang setiap saat ku pijak
Alamku yang batuk berdahak karena asap
Ini akan meledak,
Kami akan khawatir padamu, Kawan
Dengan segala ancaman
tanpa pembelaan
Hingga Tidak ada kata Beda
Sampai matipun aku harus menjadi penentang kebudayaan
Hingga hancur bersama, luluh lantak akibat dunia
Tidak hanya sebuah tekanan yang di tutup rapat,
hanya keadaan yang sewajarnya untuk dimaklumkan
Hingga pada dasarnya,
matiku akan tetap diam tak bicara
Mereka seakan mengurungku pada dilema
Hanya untuk melawan sebuah perbedaan
Tidak hanya sebuah tekanan yang di tutup rapat,
hanya keadaan yang sewajarnya untuk dimaklumkan
Hingga pada dasarnya,
matiku akan tetap diam tak bicara
Mereka seakan mengurungku pada dilema
Hanya untuk melawan sebuah perbedaan
Langganan:
Komentar (Atom)